إِنَّ الْحَمْدَ للهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِأَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَ مَّا بَعْدُ
فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى الله، وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْن
قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، اَعُوْذُبِااللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، فَأَمَّا الإنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ، وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ
Jamaah Jum’at Rahimakumullah,
Setiap orang pasti mengharapkan kehidupan yang penuh kemuliaan dan kebaikan. Namun apa saja tanda-tanda kemuliaan itu? Menurut surah al-Fajr ayat 15 dan 16, manusia seringkali terjebak dalam cara berpikir keliru. Mereka mengira bahwa kemuliaan hidup itu ada pada harta dan kedudukan yang Allah berikan kepadanya selama di dunia. Sebaliknya, apabila ada orang yang hidupnya sempit, prihatin dan miskin, mereka cenderung menganggap Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyia-nyiakannya.
فَأَمَّا الإنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ، وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ
Maka adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Namun apabila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.
Di ayat-ayat sebelumnya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menceritakan sekilas apa yang telah menimpa kaum-kaum terdahulu, yaitu kaum ‘Ad, Tsamud, dan Fir’aun. Ketiganya adalah kelompok dan orang yang mendapatkan anugerah kenikmatan duniawi berlimpah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Kaum ‘Ad dan Tsamud tinggal di negeri Arab. Peristiwa kehancuran kedua kaum ini telah banyak kita dengar secara mutawatir dari generasi ke generasi. Puing-puing kehancuran keduanya dapat diketahui dengan jelas sebegaimana dikisahkan Al-Qur’an dalam al-‘Ankabut ayat 38.
‘Ad adalah nama satu kabilah Arab. Mereka hidup setelah lenyapnya kaum Nabi Nuh ‘Alaihissalaam. Kepada mereka Allah mengutus Nabi Hud ‘Alaihissalaam. Kabilah itu dinamai ‘Ad karena mereka adalah keturunan ‘Ad bin Aush bin Iram bin Sam bin Nuh ‘Alaihissalaam. Mereka dikenal dalam sejarah sebagai kaum yang mampu membangun peradaban fisik yang sangat hebat. Mereka mampu membangun imaad atau bangunan yang tinggi.
Sementara menurut al-A’raaf ayat 73, kaum Tsamud adalah kaumnya Nabi Shalih ‘Alaihissalaam. Mereka hidup setelah dibinasakannya kaum ‘Ad dan tinggal di daerah Hijr, sebuah daerah yang berada di antara Hijaz dan Tabuk. Dalam ayat itu dikisahkan, mereka memotong batu-batu yang keras di waadi al-qurraa untuk membangun gedung-gedung tempat tinggal mereka.
Sedangkan Fir’aun adalah penguasa Mesir pada masa diutusnya nabi Musa ‘Alaihissalaam. Fir’aun dikenal memiliki awtaad, yaitu balatentara dan pasukan yang sangat kuat dan menakutkan.
Akan tetapi, semua keutamaan itu tidak lantas menjadikan mereka mulia dalam pandangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketiganya melakukan pembangkangan. Kekayaan dan kehebatan peradaban mereka malah berujung pada turunnya azab pedih dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Hadirin Rahimakumullah,
Dari kisah ketiganya, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa kemuliaan dalam pandangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sama sekali tidak ada hubungannya dengan harta dan kekuasaan dunawi.
Sayangnya, manusia umumnya mengukur kesuksesan atau kegagalan hidup berdasarkan seberapa banyak harta yang dmilikinya, dan seberapa tinggi jabatan yang dipegangnya. Manusia merasa terhormat apabila memiliki harta yang lebih dibanding orang lain. Dengan kelebihan tersebut manusia cenderung merendahkan orang lain yang kehidupannya rendah dan pas-pasan. Sebaliknya, manusia merasa disia-siakan Allah jika hidupnya serba kekurangan.
Al-Qur’an secara tegas menolak pemikiran semacam ini. Kemuliaan dan kesuksesan hidup tidak diukur dari kelebihan harta dan tingginya kedudukan. Kehinaan pun tidak berhubungan dengan kemelaratan dan kemiskinan. Orang sukses dan mulia adalah orang yang bertakwa. Ketakwaan akan membuat si kaya banyak bersyukur kemudian menggunakan kekayaan yang dimilikinya untuk berbuat baik kepada sesama. Ketakwaan akan membuat si miskin menjadi orang yang sabar, rendah hati dan makin dekat dengan Tuhannya. Dalam pandangan Al-Qur’an, kekayaan dan kemiskinan hanyalah merupakan alat (ibtilaa) bagi manusia.
Orang kaya akan menjadi hina dalam pandangan Allah manakala kekayaan yang dimilikinya justru membuatnya semakin cinta kepada dunia. Ciri utama kecintaan yang amat sangat terhadap dunia adalah tidak mau peduli kepada nasib anak yatim, mengabaikan orang miskin yang kelaparan, serta tidak memperdulikan kehalalan yang dimakannya. Inilah yang kemudian disebutkan dalam lanjutan ayat, surah al-Fajr,
كَلا بَل لا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ، وَلا تَحَاضُّونَ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ، وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلا لَمًّا، وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (al-Fajr ; 20)
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah,
Tentunya kita tidak berharap akan menjadi orang seperti itu. Jika kita mendapatkan anugerah kekayaan, kita tidak merasa sombong dan menganggap bahwa hal itu adalah tanda Allah telah memuliakan kita. Betapa banyak orang kaya yang tidak peduli dari mana ia himpun kekayaannya, bahkan kadang ia dapatkan dengan cara merusak. Maka sejatinya kekayaan itu justru akan menuai kemurkaan Allah. Sebaliknya, jika kita hidup dalam kesusahan dan kemiskinan, hendaknya jangan terburu-buru berburuk sangka kapada Allah, bahwa kita sedang disia-siakanNya. Barangkali hikmah yang dikehendaki Allah untuk kita dibalik itu semua adalah kebaikan.
Agar kita tidak terjebak dalam kesalahan berpikir seperti ini, kita harus banyak mengingat kehidupan akhirat, bahwa ada kenikmatan atau justru kesengsaraan abadi sesudah hari kemudian.
كَلا إِذَا دُكَّتِ الأرْضُ دَكًّا دَكًّا، وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا، وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الإنْسَانُ وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرَى، يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي
Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris. dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Mereka mengatakan: “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” (al-Fajr ; 21-24)
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan taufiqNya agar kita semua dapat menyikapi dinamika kehidupan ini secara benar, aamiin yaa rabbal ‘aalamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأيَةِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ