NU Media – Suatu hari Khalifah Harun al-Rasyid mengundang para ulama ke istana untuk memberikan nasihat, termasuk Syaikh Fudhail yang pada waktu itu belum mengenal wajah dan tidak tahu, siapa sang khalifah.
Berangkatlah para ulama menuju istana Khalifah Harun al-Rasyid. Satu per satu ulama maju menuju mimbar untuk memberikan tausiyahnya, dan ketika tiba giliran Syaikh Fudhail, beliau bertanya kepada rekan di sebelahnya, yang manakah sang khalifah. Setelah ditunjukkan, Syaikh Fudhail lalu berdiri. Beliau tidak menuju mimbar tetapi menuju ke tempat duduk Khalifah Harun al-Rasyid. Sesampainya di hadapan khalifah, Syaikh Fudhail mengucapkan satu kalimat, “wahai khalifah, di pundakmu urusan umat dan urusan agama!”
Mendengar kalimat pendek ini Khalifah Harun al-Rasyid tiba-tiba meneteskan air mata, menangis membayangkan betapa berat amanah yang beliau emban sebagai seorang pemimpin. Satu kalimat yang amat membekas di hatinya.
Khalifah Harun al-Rasyid teringat akan peringatan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam,
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعيّتِهِ
“setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dia pimpin.”
Term ra’in pada dasarnya (secara bahasa) berarti penggembala. Jika ditinjau lebih dalam lagi, ra’in adalah orang yang mampu menjaga dan dipercaya untuk memikul apa yang diamanatkan kepadanya. Dia dituntut sanggup berlaku adil dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya.
Dari sekian banyak penafsiran ulama tentang amanah, dapat ditarik “benang merah” yang menghubungkan antara satu dengan yang lain yaitu al-mas’uliyyah (tanggung jawab) atas anugerah Tuhan yang diberikan kepada manusia, baik berupa jabatan (hamba sekaligus khalifah) maupun nikmat yang sedemikian banyak. Dengan kata lain, manusia berkewajiban untuk menyampaikan laporan pertanggungjawaban kelak di hadapan Allah atas seluruh limpahan karunia Ilahi yang diberikan kepadanya. Hal ini juga berarti bahwa pemimpin bukan hanya orang yang memiliki jabatan organisasi, instansi atau lembaga tertentu, tetapi setiap manusia adalah pemimpin dalam skala yang paling kecil.
Kesadaran inilah yang membuat Khalifah Harun al-Rasyid menangis, manakala mendengar Syaikh Fudhail mengucapkan nasihat singkat di hadapannya. Betapa kelak dia akan berhadapan dengan Pengadilan Allah Azza Wa Jalla yang tiada seorangpun mampu berkelit dari “fakta persidangan” yang sedang dihadapinya, guna mempertanggungjawabkan seluruh amanah yang dia emban atas mandat dari Tuhannya.
Semoga para pemimpin kita diberikan Allah kesehatan, kekuatan dan kesabaran. Sebab di pundak mereka, urusan umat dan agama diletakkan. Aamiin.
Wallaahul Muwaffiq ilaa Aqwamith Thariiq.